Sejarah Wali Songo Lengkap (Cerita Wali Songo)

♠ Posted by Kriswantoro Kuwarasan in

Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.


http://juragansejarah.blogspot.com

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.


Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n

2. Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

4. Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah

yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.


5. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

6. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

7. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

8. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
http://juragansejarah.blogspot.com/2013/05/sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.



Misteri Kabupaten Sleman Jawa Tengah

♠ Posted by Kriswantoro Kuwarasan in
Mengungkap sejarah merupakan perjalanan yang rumit dan melelahkan. Setidaknya pengalaman tersebut dapat dipetik dari upaya Dati II Sleman untuk menentukan hari jadinya. Setelah melalui penelitian, pembahasan, dan perdebatan bertahun-tahun, akhirnya hari jadi Kabupaten Dati II Sleman disepakati. Perda no.12 tahun 1998 tertanggal 9 Oktober 1998, metetapkan tanggal 15 (lima belas) Mei tahun 1916 merupakan hari jadi Sleman. Di sini perlu ditegaskan bahwa hari jadi Sleman adalah hari jadi Kabupaten Sleman, bukan hari jadi Pemerintah Kabupaten Dati II Sleman. Penegasan ini diperlukan mengingat keberadaan Kabupaten Sleman jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai wujud lahirnya negara Indonesia modern, yang memunculkan Pemerintah Kabupaten Dati II Sleman.


Keberadaan hari jadi Kabupaten Sleman memiliki arti penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memantapkan jati diri, sebagai landasan yang menjiwai gerak langkah ke masa depan. Penetapan hari jadi ini akan melengkapi identitas yang saat ini dimiliki Kabupaten Sleman.

Dalam perhitungan Almanak, hari jadi Kabupaten Sleman jatuh pada hari Senin Kliwon, tanggal 12 (dua belas) Rejeb tahun Je 1846 Wuku Wayang. Atas dasar perhitungan tesebut ditentukan surya sengkala (perhitungan tahun Masehi) Rasa Manunggal Hanggatra Negara yang memiliki arti Rasa = 6, manunggal = 1, Hanggatra = 9, Negara = 1, sehingga terbaca tahun 1916. Sementara menurut perhitungan Jawa (Candra Sengkala) hari jadi Kabupaten Sleman adalah Anggana Catur Salira Tunggal yang berarti Anggana = 6, Catur = 4, Salira = 8, Tunggal = 1, sehingga terbaca tahun 1846. Kepastian keberadaan hari jadi Kabupaten Sleman didasarkan pada Rijksblad no. 11 tertanggal 15 Mei 1916. Penentuan hari jadi Kabupaten Sleman dilakukan melalui penelaahan berbagai materi dari berbagai sumber informasi dan fakta sejarah.

Adapun dasar-dasar pertimbangan yang digunakan adalah:
1.    Usia penamaan yang paling tua Mampu menumbuhkan perasaan bangga dan mempunyai    keterkaitan batin yang kuat terhadap masyarakat.
2.    Memiliki ciri khas yang mampu membawa pengaruh nilai budaya .
3.    Bersifat Indonesia sentris, yang dapat semakin menjelaskan peranan ciri keindonesiaan tanpa menyalahgunakan obyektivitas sejarah.
4.    Mempunyai nilai historis yang tinggi, mengandung nilai dan bukti sejarah yang dapat  membangun semangat dan rasa kagum atas jasa dan pengorbanan nenek moyang kita.
5.    Merupakan peninggalan budaya Jawa yang murni, tidak terpengaruh oleh budaya  kolonial.

sumber

SEJARAH PERANG SALIB

♠ Posted by Kriswantoro Kuwarasan in ,,
SEJARAH PERANG SALIB

SAMPAI abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.


Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim-yang menguasai Palestina saat itu-menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan-terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil-untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.


Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098.

Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin Al Ayyubi dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.


Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib-tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”.

Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.


Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.


Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya.

Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib. 

sumber: globalkhilafah
 

Kumpulan Sejarah dapat dibaca disini

Sejarah Isa Almasih Lengkap [menurut islam]

♠ Posted by Kriswantoro Kuwarasan in
AL MASIH : KESAKSIANNYA MENURUT SEJARAH

SIFAT DAN KEKUASAANNYA                                

Isa Al Masih, Kelahiran seorang Perawan
Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa                   

Isa Al Masih, yang Diberkati                                       

Sebagai Manusia yang Memberi Petunjuk yang Jelas

Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib
Kemampuannya Melakukan Mujizat
Kemampuannya untuk Mencipta
Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati


PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG

Para Nabi Menulis tentang Dia                                     

Al Masih Disujud ketika masih dalam Kandungan   

Al Masih Diberi Wahyu yang Sempurna                       

Al Masih Diperkuat oleh Roh Suci                                

Al Masih Berkedudukan dekat dengan Allah            

Al Masih Diangkat dekat ke Sisi Allah                         

Al Masih Sebagai Pengetahuan Hari Kiamat            

Al Masih, Orang yang Terpilih oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir                               

Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya                         

SIFAT DAN KEKUASAANNYA

Dalam Bahagian Pertama kita telah menggambarkan Isa Al Masih yang akan muncul di masa mendatang.  Dalam Bahagian ini kita akan menggambarkan Isa Al Masih yang tampil sebagai tokoh historis.  Kita lihat pengungkapan watak Isa Al Masih dari Al-Qur’an, menurut ulasan para akhli kitab dan karya tulis kaum Sufi/Akhli Tasawuf.


Isa Al Masih, Kelahiran Seorang Perawan

Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa Isa dilahirkan dari seorang perawan.  Kejadiannya digambarkan sebagai berikut:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih, Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah ...

Kata Maryam: “Wahai Tuhanku!  Bagaimana aku dapat memperoleh anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?” Allah berfirman dengan perantaraan Malaikat Jibril: “Begitulah.  Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.  Bila Dia menghendaki sesuatu, hanya tinggal, mengucapkan saja “Kun” lalu jadilah ia.’

Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa Maryam belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun dan kelahiran Isa Al Masih nyata sebagai suatu keputusan Allah.  Keunikan Isa Al Masih masuk ke dalam sejarah bukan semata-mata suatu kejadian alam, tetapi merupakan suatu mujizat yang disengaja mempunyai satu maksud, di mana Al-Qur’an menyatakan:

Allah mengetahui isi kandungan setiap perempuan, baik kandungan yang kurang, maupun yang berlebih.  Segala-galanya di sisi Allah serba berukuran.

Pengetahuan Allah atas hal tersebut dan maksudnya secara rinci atas ciptaanNya lebih jauh ditekankan dalam penyataan berikut:

Kami tidak menjadikan ruang angkasa yang amat luas dan persada bumi yang terhampar ini, begitu juga apa-apa yang berada di antara keduanya, secara main-main.

Allah tidak melakukan hal-hal yang sia-sia, tetapi segala-galanya diciptakan atas kebijakan-Nya yang Maha Agung dan 5memiliki maksud tertentu.  Jadi sementara Allah menetapkan bahwa setiap manusia ditakdirkan lahir akibat bersatunya laki-laki dan perempuan, Ia juga menetapkan Isa lahir dari Maryam yang tidak disentuh oleh laki-laki.  Hal ini diterima tanpa suatu perdebatan oleh para ilmuwan Muslim.  Keunikan dari pengakuan tersebut diungkapkan oleh Shabestari dalam penyataannya sebagai berikut:

Jelas tidak ada orang yang dilahirkan tanpa bapa, hanya seorang saja yakni Isa yang hidup atau hadir di dunia ini.


Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa

Salah satu sifat yang unik dari Isa Al Masih adalah ia tidak berdosa, sementara manusia lainnya bahkan nabi-nabi sekalipun, di suatu saat sadar atau tidak sadar pernah bersalah dalam pikiran atau perbuatannya. Hanya Isa Al Masihlah yang tetap suci.

Di dalam Al-Qur’an banyak bukti-bukti yang menunjukkan Adam, Musa dan Muhammad semuanya pernah berdosa.  Ibrahim sendiri menemukan dirinya perlu bertaubat, meskipun hubungannya dengan Allah dekat dan Al-Qur’an sendiri mengungkapkannya dalam suatu soal jawab dengan Allah suatu waktu, ayat itu berbunyi seperti berikut:

Setelah Ibrahim merasa rasa takutnya  hilang bahkan mendapat berita gembira, mulailah dia berbincang-bincang dengan Kami tentang kaum Luth

Meskipun Ibrahim sangat dekat dengan Allah, ia masih mengungkapkan perlunya meminta pengampunan kehadirat Allah:
“Yang menciptakan aku, dan Dia-lah yang menunjuki aku.  Dan yang memberi makan dan minum-ku.  Jika aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku. Dia yang mematikanku, kemudian Dia pula yang menghidupkanku kembali di akhirat.  Dia-lah yang sangat kuharapkan sudi mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan”.

Musa yang dikasihi Allah di mana Dia langsung berbicara dengannya, juga menemukan dia perlu meminta pengampunan setelah ia menyerang dan membunuh seorang warga Mesir, dan mengatakan:

Musa berdoa: “Ya Tuhanku!  Bahwasanya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku”.  Lalu Allah mengampuninya.  Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang. [8]

Begitupun Daud meminta pengampunan Tuhannya sambil menjatuhkan dirinya ke tanah, bersujud dan meminta ampunan. [9]

Jadi ketiga Nabi tersebut: Ibrahim, Musa dan Daud menyadari perlunya pengampunan dari Allah.

Nabi Muhammad juga menemukan dosa-dosanya, sebelum ia diangkat sebagai nabi, di mana ia merasa berat
menanggungnya.  Hal ini dibenarkan dalam Al-Qur’an:

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?  Dan Kami telah menurunkan bebanmu yang telah memberati punggungmu?”

Beban yang dipikul Nabi Muhammad di punggungnya bukan berupa beban fizikal, tetapi beban rohaniah .  Kata (Wezr) yang diterjemahkan sebagai “beban” dalam ayat tersebut di atas merupakan kata  khusus yang bererti dosa dalam bahasa Al-Qur’an.  Contoh dalam Al-Qur’an 16:25 yang menyatakan: “Kami takdirkan mereka berucap demikian, supaya mereka memikul dosanya (awzar, jamak kepada wezr) sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, berikut dengan seBahagian dosa dari orang-orang yang mereka sesatkan karena tidak mengetahui.  Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul.” (Lihat juga pada Al-Qur’an 6:31, 6:164, 17:15, 20:100, 35:18).

Sementara Al-Qur’an menyatakan dosa-dosa yang terdahulu dalam fakta kehidupan Nabi Muhammad, dikatakan juga tentang dosa-dosa “kemudian”:

Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan memimpinmu ke jalan yang lurus.
Ini juga disahkan oleh Hadis yang mengatakan Nabi Muhammad dahulu terbiasa  ‘memohon pengampunan dan menghadap Allah bertaubat lebih dari tujuh puluh kali sehari’  Bukhari mencatat doa Muhammad meminta pengampunan sebagai berikut:

Ya, Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaianku yang melampaui batas kebenaran dalam perbuatan-perbuatanku; dan ampunilah apa saja yang Engkau paling ketahui daripadaku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, yang tidak disadari sebagai olok-olok atau yang lebih berat, dan semua yang ada dalam diriku

Memang benar ia terus meminta pengampunan sampai nafasnya yang penghabisan.

Dosa-dosa seluruh umat manusia dibenarkan lebih jauh lagi oleh Hadis yang mengatakan: ‘Syetan selalu bercokol dalam pikiran manusia seperti darah mengalir dalam tubuhnya.”

Kecuali seorang manusia yang oleh Al-Qur’an ataupun Hadis dianggap suci dari dosa adalah Isa Al Masih.  Ia tidak pernah berbuat dosa, tidak berbuat kesalahan dan tidak pernah melewati batas-batas yang telah ditetapkan Allah secara sengaja atau karena berbuat bodoh, secara olok-olok atau secara serius, secara sengaja ataupun tidak sengaja.  Isa Al Masih digambarkan dalam Al-Qur’an 19:19 sebagai ‘seorang putera yang suci (zakeyia)’ , bahkan sebelum dilahirkan.  Baidawi menjelaskan bahwa ‘seorang anak yang suci berarti suci dari dosa-dosa’.  Di dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak ada lagi yang digambarkan sebagai yang suci kecuali Isa Al Masih.

Hadis juga menyatakan bahwa Isa Al Masih sebagai orang yang tidak berdosa. Bukhari, contohnya mengaitkannya dengan Hadis berikut:

Ketika setiap orang dilahirkan (tersurat: semua anak Adam begitu semasa mereka dilahirkan), Syetan menyentuh (tersurat: menggosok) kedua belah badannya dari kanan dan dari kiri dengan kedua jarinya, kecuali Isa anak Maryam, meskipun ia juga dicoba tapi tidak berhasil.

Baidawi menerangkan arti dari ‘sentuhan atau gosokan’ Syetan sebagai ‘upaya menggoda setiap bayi yang baru lahir sehingga anak tersebut bisa dipengaruhinya’. [19]   Syetan, musuh berbuyutan Allah dengan demikian berjuang dengan cara yang tidak adil.  Ia mencari jalan menggoda orang dari saat pertama mereka mulai hidup, dan hanya seorang manusia yang bisa menguasai Syetan dalam babak pertama ini.  Ia adalah Isa Al Masih. Suyuti mengutip Ibni ‘Abbas, yang mengatakan:



Di antara mereka yang dilahirkan, hanya Isa anak Maryam yang tidak disentuh oleh Syetan dan tidak bisa ditaklukkan olehnya. [20]



            Mengapa Isa tidak bisa tertandingi dan berbeda? Beberapa orang mengatakan bahwa karena ia diurapi:



Ia dinamakan Al Masih karena ia diurapinya sehingga membuat dia jadi suci dari dosa-dosa, atau karena ia diurapi oleh sayap Malaikat Jibril dan dijaga dari sentuhan Syetan, atau Al Masih berarti orang yang salih. [21]



            Ada orang-orang yang membedakannya dari sifatnya yang batiniah secara rohaniah  Isa Al Masih itu sendiri.  Razi mengatakan:



Rohnya (Isa Al Masih) adalah suci, tinggi derajatnya, syurgawi; terang benderang dengan cahaya kemulyiaan dan sangat dekat dengan roh-roh para malaikat. [22]



            Jadi Isa Al Masih seperti malaikat-malaikat yang tidak perlu memohon pengampunan untuk diri mereka.  Ia tidak berdosa.

            Gelar Isa yang menyandang “Roh Allah” juga membuktikan kesucian.  Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa ia disebut ‘Roh Allah’ karena:



Adalah menjadi kebiasaan orang yang menggambarkan sesuatu yang benar-benar suci dan bersih , mereka menyebutnya sebagai roh.. [23]



            Ukuran tentang sampai di mana sucinya kenyataan Isa adalah seperti berikut: Allah, Yang Maha Tinggi, Dia sendiri menyebut Isa adalah ‘Roh dari Allah’.  Sementara setiap umat manusia telah ingkar dari kesetiaannya kepada Allah dan tidak lagi takut kepada Allah di suatu ketika dalam sejarah hidupnya tetapi Isa Al Masih tetap suci bersih, tidak disentuh oleh Syetan.

            Rasa takut kepada Allah merupakan suatu tolok ukur keimanan seseorang di mata Allah, sebagaimana ayat Al-Qur’an menyatakan:



Hai manusia! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.  Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.  Yang teramat mulia di antaramu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertakwa.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal. [24] .



            Adalah semata-mata ketaqwaan atau kesalihan, dan bukannya tanda-tanda keindahan duniawi, kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai status di hadapan Allah. Nabi-nabi dan para malaikat juga ditentukan statusnya oleh ketaqwaan mereka.  Tetapi malaikat lebih tinggi derajatnya daripada nabi-nabi karena:



Mereka para malaikat yang memangku Singgasana dan yang berada di sekitarnya menyuarakan puji kepada Tuhannya, beriman kepada-Nya dan meminta ampun untuk orang-orang beriman... (Al-Qur’an 40:7-9)



            Razi mengulas:



Banyak ilmuwan menafsirkan ayat-ayat ini [25] sebagai suatu kesimpulan bahwa para malaikat lebih tinggi derajatnya daripada manusia.  Mereka mengatakan bahwa para malaikat tidak perlu memohon pengampunan bagi dirinya, karena bila mereka perlu pengampunan, mereka semestinya meminta pengampunan buat diri mereka sendiri terlebih dahulu, seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad: “Mulailah bertaubat untuk diri sendiri’.  Juga Allah  mengatakan kepada Nabi Muhammad: ‘... Maka ketahuilah (ya Muhammad) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan, melainkan Allah dan minta ampunlah (kepada-Nya) untuk dosa engkau dan untuk (dosa) orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan.  Allah mengetahui tempat mencari penghidupanmu dan tempat diammu’ (Al-Qur’an 47:19).  Jadi Allah memerintahkan Muhammad untuk memohon pengampunan terlebih dahulu buat dirinya baru kemudian untuk orang lain ... Dan karena Allah tidak menyebutkan bahwa para malaikat tidak meminta pengampunan buat mereka sendiri, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak perlu meminta pengampunan.  Para nabi perlu pengampunan dari Allah dan ini sangat jelas dari firman Allah kepada Muhammad.  Kalau memang ini dipegang teguh maka semakin jelaslah bahwa para malaikat lebih tinggi daripada manusia. [26]



            Dengan tidak perlunya pengampunan bagi para malaikat, nampaknya mereka lebih sempurna dalam kepatuhannya dan rasa takutnya kepada Allah, jadi mereka lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada manusia.  Tidak seperti halnya dengan manusia, para malaikat tidak perlu meminta pengampunan karena mereka terbebas dari dosa.  Isa Al Masih bisa disejajarkan dengan malaikat dan oleh karena itu, ia adalah sama-sama suci.





Isa Al Masih, yang Diberkati



Di samping tidak berdosa, Isa Al Masih juga diberkati.  Ia bukan hanya sempurna secara pasif , tetapi juga sempurna secara aktif . Al-Qur’an menyatakan tentang Isa:



Dan dijadikan-Nya pula aku seorang yang diberkati (Pembawa Bahagia) di mana saja aku berada. [27]



            Menurut ayat ini, Isa diberkati tanpa syarat dan untuk selamanya. Andaikata ia tidak mematuhi Allah baik dalam pikiran atau perbuatan setiap saat, ia tidak akan mengatakan diberkati di manapun ia berada.

            Kata ‘diberkati’ menurut penerangan Baidawi berarti ‘berguna bagi manusia’.  Dalam arti kata yang lain, Isa hidup bukan buat dirinya sendiri, tetapi ia hidup bagi seluruh umat.  Arti yang pasti dari ‘berguna untuk manusia’ dijelaskan oleh Razi yang mengatakan Isa:



Melalui Isa Al Masih, Allah membebaskan umat manusia dari segala macam tipuan, sama seperti manusia hidup dengan Roh-Nya. [28]



            Isa tidak puas semata-mata bebas dari dosa, tetapi ia juga secara aktif  mencari jalan untuk membebaskan orang dari tipuan Syetan, musuh bebuyutan Allah.  Begitu penting upayanya sehingga Razi membandingkan Isa sebagai Roh yang memberi kehidupan kepada suatu tubuh.  Baidawi secara sama menggambarkan upaya Isa ketika ia mengatakan bahwa Isa “dahulu biasa menghidupkan tubuh yang mati begitupun hati yang mati menjadi hidup”. [29]

            Isa Al Masih tidak hidup hanya menjaga kesucian dirinya, karenanya ia hidup menikmati hidupnya yang sempurna selaras dengan kehendak Allah.  Tetapi ia juga hidup dengan memberi berkat  kepada orang lain.  Jadi kesempurnaan Isa Al Masih bukan semata-mata pasif , yakni tidak berdosa; tetapi juga aktif  sebagai suatu sumber berkat .

            Dalam seluruh Al-Qur’an tidak ada seorangpun yang dipanggil sebagai “diberkati” kecuali Isa Al Masih.  Adalah benar bahwa Al-Qur’an itu sendiri digambarkan sebagai suatu kitab suci yang diberkati. [30]

            Perkataan itu juga digunakan kepada rumah suci yang pertama di Mekah yang telah dibina oleh para malaikat sebelum penciptaan Adam [31] , Malam Lailatul Qadr (malam di mana Al-Qur’an diturunkan) [32] .  Dan pohon zaitun di mana dianggap sebagai cahaya Allah atau Nurullah. [33]   Jadi Isa Al Masih disejajarkan dengan Al-Qur’an, rumah yang pertama kali dibangun di Mekah, Lailatul Qadr dan pohon zaitun yang diberkati.  Kendatipun demikian, satu-satunya orang yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai yang diberkati adalah Isa Al Masih.

            Oleh karena itu, Isa Al Masih adalah tidak berdosa dan diberkati.  Syetan tidak bisa menyentuh Isa, yang tetap sempurna dalam hidupnya sepanjang hidupnya.  Di samping itu, Isa Al Masih dalam menghancurkan pekerjaan Iblis sangatlah sempurna sehingga ia digambarkan sebagai Roh yang memberi hidup, yang bisa menghidupkan mereka yang mati karena tipuan-tipuan Syetan.  Kesempurnaan Isa Al Masih adalah secara pasif dan juga aktif .  Oleh karenanya dalam hubungan ini ia memiliki sifat yang tidak ada bandingannya.







Sebagai Manusia yang Memberi Petunjuk yang Jelas



            Jika sifat Isa Al Masih yang tidak berdosa dan diberkati itu membuat dirinya unik di antara nabi-nabi, maka petunjuk Allah yang diberikan atau ditanamkan dalam diri Isa adalah benar-benar unik.



Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib



            Pengetahuan tentang yang tidak bisa dilihat atau ghaib merupakan suatu sifat yang agung.  Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an:



Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.  Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan.  Tidak sehelai daunpun yang gugur tentu diketahui-Nya juga.  Tidak sebutir-bijipun yang tersembunyi dalam gelap gulita di bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab Lauhul mahfuzh. [34]



            Muhammad sendiri menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa ia tidak memiliki pengetahuan yang ghaib ketika ia mengatakan:



Katakanlah: “Aku tidak mampu meraih manfaat dan menolak kemelaratan untuk diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah.  Seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, sudah tentu aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan waspada terhadap b ahaya yang akan menimpa.  Aku tidak lain hanyalah Pemberi peringatan dan Pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. [35]



            Dalam ayat lain dikatakan:



Katakanlah!: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaraan Allah ada padaku!  Karena aku tidak mengetahui yang ghaib.  Juga aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku seorang malaikat.  Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”. [36]



            Oleh karena itu, menurut Al-Qur’an, pengetahuan ghaib bukan urusan manusia.  Allah sendirilah yang mempunyai kekuasaan untuk memberikannya kepada yang Dia pilih. “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan seperti sekarang ini, namun Allah akan menyisihkan antara yang buruk dan yang baik.  Dan Allah tidak akan memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepadamu, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya.  Oleh karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.  Jika kamu beriman dan bertaqwa, niscaya kamu peroleh pahala besar.” [37]



            Al-Qur’an menerangkan kepada kita bahwa Allah memilih Isa Al Masih untuk membukakan hal yang ghaib.  Dengan kehendak-Nya Allah memilih Isa Al Masih dari antara para pesuruh Allah untuk membukakan hal sekecil apapun dari kehidupan orang, termasuk “apa-apa yang mereka makan, dan apa yang mereka miliki sebagai kekayaan di rumah mereka”. [38] Mereka yang telah mengulas ayat tersebut di atas menyebutkan banyak ceritera tentang pengetahuan Isa Al Masih akan hal-hal yang ghaib.  Kekuasaan ini hanya kekuasaan Allah yang diberikan kepada Isa Al Masih sendiri di antara rasul-rasul lain.  Inilah sifat lain yang menambah keunikan Isa Al Masih.





Kemampuannya Melakukan Mujizat



            Misi Isa Al Masih di bumi adalah memperbaiki umat manusia untuk mematuhi Allah.  Seperti yang telah ditegaskan sebelumnya, ia diberi kekuasaan yang unik untuk membebaskan umat manusia dari tipuan-tipuan Syetan.  Ia juga diberi kekuasaan untuk menyembuhkan orang dari penyakit badani sebagai suatu bukti bahwa ia dikirimkan Allah.

            Kekuasaan Isa untuk menhancurkan pekerjaan Syetan lebih jauh ditunjukkan ketika ia menyembuhkan orang atau mereka yang sakit. Penyembuhan secara rohani jelas bisa menyembuhkan badan yang sakit.  Ini membuktikan bahwa perkataannya sepadan dengan perbuatannya.

            Al-Qur’an mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Isa Al Masih merupakan “tanda yang jelas” dari kekuasaan Allah.  Tanda yang jelas ini tidak diberikan kepada semua rasul. Al-Qur’an mengatakan:



Itulah keterangan-keterangan Allah.  Kami bacakan kepadamu hai Muhammad, dengan sebenarnya.  Dan engkau sesungguhnya seorang Rasul di antara rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul itu Kami lebihkan seBahagian mereka dari yang lain.  Diantaranya ada yang langsung Allah bercakap-cakap dengan dia, dan sebagiannya Allah mengangkat kemuliaannya beberapa derajat.  Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mujizat dan kami perkuat dia dengan Roh Suci.  Dan kalau Allah menghendaki  niscaya orang-orang yang berada sepeninggal rasul-rasul itu tidaklah akan saling membunuh setelah datang kepada mereka beberapa keterangan.  Namun mereka berselisih juga, ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir.  Jika Allah menghendaki mereka tidaklah akan saling membunuh.  Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya [39]



            Baidawi mengulas ayat tersebut di atas seperti berikut:



Allah menjadikan mujizat Isa Al Masih sebagai bukti kecintaan-Nya kepada Isa (melebihi rasul-rasul lain) karena semua mujizatnya adalah pertanda yang jelas dan luar biasa.  Dan semua mujizatnya tidak dilakukan oleh yang lain kecuali dia. [40]



            Mujizat yang khusu dan istimewa ini membuktikan/menunjukkan bukan hanya kecintaan Allah kepada Isa daripada rasul-rasul lainnya tetapi juga merupakan ukuran dari kecintaan tersebut.  Allah memberikan beberapa rasul kemampuan melakukan beberapa mujizat, tetapi Bahagian mujizat yang diberikan kepada Isa melebihi daripada apa yang diberikan kepada rasul-rasul lain.  Jadi kita bisa melihat bahwa dengan melakukan mujizat secara jasmani Isa Al Masih dibedakan.  Ini juga membuktikan kekuasaannya melakukan mujizat secara rohaniah  dilebihkan dari yang lain.  Jadi kemampuannya melakukan mujizat yang tidak bisa tertandingi baik secara jasmani maupun rohaniah  menunjukkan sifat Al Masih yang unik.



Kemampuannya untuk Mencipta



            Sementara kekuasaan Isa Al Masih melakukan mujizat benar-benar tidak tertandingi, ukuran kekuasaan ini diberikan juga kepada beberapa nabi lainnya. Tetapi kekuasaan untuk mencipta hanya diberikan kepadanya.  Menurut Al-Qur’an, kekuasaan mencipta ini tidak dimiliki oleh nabi-nabi yang lainnya.

            Al-Qur’an menantang orang kafir dengan menyatakan:



Hai manusia, telah dibuat orang perumpamaan mengenai Aku lalu dengar dan pahamilah baik-baik keadaannya, yaitu: segala yang disembah selain Allah itu tidak akan mampu membuat seekor lalatpun, sekalipun mereka bekerja-sama untuk itu.  Bahkan kalau lalat-lalat itu merampas sesuatu dari berhala itu, sang berhala tidak dapat merebutnya kembali dari sang lalat.  Yang menyembah dan yang disembah sama-sama lemah. [41]



            Meskipun demikian menurut Al-Qur’an, Isa adalah satu-satunya orang yang diberikuasa oleh Allah untuk menciptakan sesuatu dari tanah liat. Al-Qur’an mengutip kata-kata Isa seperti berikut:



Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul untuk Bani Israil.  Katanya: “ Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yiaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah.  Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.  Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [42]



            Jadi Al-Qur’an menjelaskan bahwa Isa memiliki kekuasaan untuk menciptakan sesuatu dari tanah liat, yang menurut beberapa orang sama dengan merubah tongkat Nabi Musa menjadi ular.  Kendatipun penapsir Al-Qur’an yang cermat membuktikan bahwa ini bukan hal yang dimaksudkan.  Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya kepada Musa:



Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?  Musa menjawab: “Inilah tongkatku, alat untuk aku bertelekan, juga untuk pemukul dahan-dahan kayu supaya daunnya berguguran untuk makanan kambingku, dan banyak lagi keperluanku yang lain dengan tongkat ini.  Allah berfirman: “Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa”.  Segera Musapun melemparkan tongkatnya, serta merta tongkat itu menjelma jadi seekor ular yang merayap dengan lincah. [43]



            Ketika melihat ular itu melingkar yang dirubah dari tongkat, Musa berbalik dan lari dengan ketakutan.  Tetapi Allah memanggilnya seraya mengatakan: “Musa jangan takut”. [44]

            Dalam kejadian di atas, Allah melakukan mujizat untuk meyakinkan Musa akan kekuasaan-Nya.  Ketika Musa melemparkan tongkatnya ia tidak mengharapkanny amenjadi ular, ketika ternyata menjadi ular, ia lari dengan ketakutan.  Jelas dalam kejadian ini, bukan Musa yang keluarkan langkah pertama, tetapi Allah-lah yang melakukan perubahan itu.

            Mujizat yang sama juga dilakukan di depan Firaun ketika Allah “memberikan wahyu kepada Musa, “lemparkan tongkatmu”.  Sekonyong-konyong Ular (tongkat) itu menelan semua ular mereka.” [45]

            Dalam kejadian tersebut, Musa tidak melakukan apa-apa lagi kecuali mentaati perintah Allah seperti sebelumnya.  Allah menyuruhny untuk melemparkan tongkatnya dan Musa menurut saja.  Jadi yang berinisiatip adalah Allah bukannya Musa.  Memang itulah sifat-sifat bagaimana Allah memberikan mujizat kepada Musa, seperti yang bisa dilihat dari berbagai kejadian lainnya.  Contohnya, sewaktu Bani Israil sedang haus, ada perintah Allah menyuruh Musa untuk memukul batu [46] , dan ketika mereka keluar dari Mesir sebelum menyebrangi laut  Allah  memerintah Musa untuk memukulkan tongkatnya pada air laut ‘...lalu belahlah laut itu, sedangkan masing-masing belahannya seperti gunung yang besar’. [47]

            Dalam setiap kejadian-kejadian tadi, Allahlah yang menjadi pembuat inisiatip.  Bukan Musa yang mengendalikan waktu dan cara bagaimana mujizat bisa dilakukan, tetapi Allahlah yang melakukannya.

            Ketika Isa melakukan penciptaan, Allah membiarkan Isa melakukan inisiatip sendiri dalam melakukan mujizatnya dan memberikan hidup.  Ayat Al-Qur’an menggambarkan kegiatan-kegiatan Isa dalam pengertian berikut:



Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah.  Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.  Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [48]



            Isa tidak disuruh Allah menghidupkan orang yang mati atau menyembuhkan orang buta sebagaimana Musa.  Tetapi Allah melebihkan Isa dengan kekuasaan yang diberikan-Nya mempunyai hak berinisiatip. Musa tidak meniupkan sesuatu roh pada tongkatnya supaya menjadi ular, tetapi Isa meniupkan roh pada tanah dan jadilah makhluk hidup darinya.

            Ibn ‘Arabi, seorang penulis Sufi agung dalam menjawab pertanyaan berikut, “Dengan cara bagaimana Allah membedakan setiap rasul?”, ia menjawab:



Allah memberikan Adam pengetahuan an Nama-nama Agung, kepada Musa dengan berbicara kepadanya dan dengan Taurat, dan membedakan Rasulullah [Muhammad] apa yang Muhammad sebutkan sendiri  “Ia diberikan kebesaran berbicara”.  Kepada Isa Allah membedakannya dengan  roh, ditambah dengan meniupkan roh pada yang ia ciptakan dari tanah, itu hanya kepada Isa saja,dan Allah tidak menambah kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan  kepada rasul yang lain kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri. [49]

            Penciptaan makhluk hidup tidak begitu saja diberikan kepada nabi-nabi lainnya, tetapi hanya kepunyaan Allah semata dan hanya diberikan kepada Isa Al Masih.





Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati



            Al-Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa Isa menghidupkan orang mati:



Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, taurat dan Injil ...dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. ... Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [50]



            Hadis juga mendukung kenyataan ini dengan menyebutkan nama-nama orang yang dibangkitkan kembali oleh Isa Al Masih bahkan setelah tubuhnya membusuk. Para mufasir setuju bahwa kekuasaan untuk menghidupkan orang mati adalah keMaha-Kuasaan Allah; yang kepunyaan Allah sendiri saja. Al-Qur’an menyatakan:



Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula.  Ia bertanya: “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?”  Jawablah: “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Allah yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya.  Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”. [51]



            Karena Allah sebagai Pencipta atau Sumber Hidup, maka Dia sendiri yang bisa menghidupkan orang yang mati.  Suyuti dalam ulasannya menghubungkan dua kejadian Isa menghidupkan orang yang mati dengan penekanan yang khusus – atas suara Isa.  Dalam kasus pertama Isa membangkitkan Sam anak Nabi Nuh:



Bani Israil datang kepada Isa memohonnya sambil berkata: “Sam anaknya Nuh dikuburkan di sini, tidak jauh.  Mohonlah kepada Allah untuk menghidupkannya kembali.  Isa kemudian memanggilnya dengan satu teriakan dan Sam keluar dari kubur dengan rambut beruban.  Orang-orang berseru: “Ia meninggal ketika ia masih muda, mengapa rambutnya jadi putih?” Sam menjawab: “Ketika aku mendengar suara Isa, aku pikir ‘satu teriakan’”. [52]



            Dalam kasus kedua, Isa membangkitkan saudara laki-lakinya:

... Ketika Isa diberitahu di mana kuburannya, Ia memanggilnya dengan teriakan satu kali, saudara laki-lakinya keluar dengan rambut beruban/putih ... Isa bertanya kepadanya: ‘Apa yang terjadi kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku mendengar suaramu dan aku pikir itu sebagai ‘satu teriakan’. [53]



            Dari dua cerita di atas, kita bisa melihat suara Isa dipahami sebagai suatu teriakan yang akan membangkitkan orang mati di Hari Kiamat.  Orang-orang yang dibangkitkan memahami hal itu dan sampai rambut mereka berubah menjadi putih.

            Acuan ini terdapat dalam Al-Qur’an 73:17:



Mana bisa kamu akan dapat menyelamatkan diri dari “huru-hara goncangan suatu hari”, di mana anak-anak dapat beruban karena memikirkan kedahsyatannya kalau kamu tetap saja kafir.



            Dan dalam Al-Qur’an juga disebutkan pada 38:15: “Mereka tiada menanti, melainkan suatu teriakan yang tidak dapat ditarik kembali”.

            Ibn ‘Arabi, dalam Fusus Al-Hikam, mengatakan tentang Isa menghidupkan kembali orang yang mati:



Katanya, ketika ia menghidupkan orang yang mati, memang dia dan bukan dia (yakni, yang bisa menghidupkan berkat kekuasaan Allah) dan orang yang menyaksikan tercengang seorang manusia bisa menghidupkan kembali orang yang mati, sementara dengan sifatnya yang agung menghidupkan orang hanya dengan suatu teriakan ... orang-orang yang menyaksikannya tetap bingung karena melihat tindakan yang agung itu dilakukan oleh seseorang yang berbentuk manusia (yaitu Isa). [54]



            Qashani mengulas kata-kata Ibn ‘Arabi tersebut sebagai:



Kebingunan timbul ... begitu orang melihat seorang manusia tanpa suatu keraguan dan dari dirinya muncul sifat yang agung; yakni menghidupkan orang yang mati, dengan satu teriakan memohon berkat Allah.  Baginya (Isa) biasa berkata kepada orang yang mati “Hidup! Bangkitlah dengan izin Allah atau dengan Nama Allah, atau dalam Allah’; dan orang mati akan bangkit dan sambil menjawab, “Inilah aku, siap melayani (atau mengabdi)”. [55]



            Dalam Hadis yang dikutip oleh Suyuti, Isa membangkitkan Sam dan saudara laki-lakinya hanya dengan suatu teriakan, bukan dengan doa.  Ia memanggil mereka dari dunia mati ke dalam dunia hidup kembali seperti memanggil seseorang dari satu kamar ke kamar yang lainnya.  Isa memiliki kewenangan atas dunia kematian. Al-Qur’an tidak menyebutkan ada nabi lain yang bisa menghidupkan orang mati dengan atau tidak seizin Allah.



PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG





Para Nabi Menulis tentang Dia



Di Bahagian Pertama kita sudah melihat bahwa jelas nabi-nabi sungguh-sungguh memperlihatkan pada dua tokoh yang penting.  Mereka bernubuat tentang Al Masih yang benar sambil memperingatkan akan Al Masih palsu, yakni si Dajjal.  Razi mengatakan bahwa menurut para akhli pikir Muslim:



Isa disebut sebagai Firman Allah, karena telah dinubuatkan tentang dirinya dalam Kitab-kitab Suci nabi-nabi sebelumnya. [56]



Sebaliknya, Hadis memperingatkan akan datangnya si Dajjal, Al Masih yang palsu yang nabi-nabi peringatkan pula kepada bangsa/umatnya, seperti halnya Nabi Nuh peringatkan:



Aku peringatkan terhadap dia dan tidak ada satu orang nabipun yang tidak memperingatkan umatnya terhadap si Dajjal.  Bahkan Nabi Nuhpun mewanti-wantikan. [57]



            Isa tidak dinubuatkan hanya sambil lalu saja oleh satu atau dua orang nabi.  Tetapi nubuat akan dia sangat jelas, banyak, dan spesifik bahwa ia disebut sebagai Firman Allah.  Nabi-nabi hanya bisa mengatakannya karena semata dikomunikasi oleh Allah, sehingga sangat jelas bahwa nabi-nabi sebelum dia meramalkan atau bernubuat akan dia. Tidak ada nabi lain yang mendapat perlakuan dan perhatian Ilahi yang sangat agung.

            Jika perhatian seperti itupun diberikan kepada si Dajjal, itu adalah karena si Dajjal mewakili kegelapan dan penipuan yang luar biasa dalam sejarah umat manusia. Sedangkan perhatian yang serupa diberikan kepada Isa adalah karena ia mewakili yang sebaliknya.  Perhatian nubuatan agung yang diberikan kepada Isa adalah karena dia merupakan suatu manifestasi teragung nur/cahaya dan kebenaran yang ilahi dalam sejarah umat manusia.

            Jika iblis dan orang kafir dengan kuatnya menentang Isa, para nabi yang diberi wahyu oleh Allah mengakui akan kekuasaan dan kepentingannya.  Nabi Yahya ialah salah satu contohnya.



Al Masih Disujud ketika masih dalam Kandungan



Isa adalah satu-satunya nabi yang dijunjung tinggi selagi ia masih dalam kandungan ibunya.  Para mufasir sepakat bahwa Nabi Yahya adalah orang pertama yang percaya bahwa Isa adalah Firman Allah. [58]   Sebenarnya ia melakukan hal itu sementara mereka masih dalam kandungan ibu mereka. Razi melaporkan ceritera berikut yang juga dilaporkan oleh Ibn Khatir:



... Ibu Isa bertemu dengan Ibunya yahya, keselamatan bagi mereka. Kedua ibu itu sedang hamil: yang satu mengadung Isa; yang satu lagi mengadung Yahya.

Ibu Yahya bertanya kepada Maryam, “Engkau rasakan ada bayi dalam kandunganku?” Maryam berkata: “Aku juga sedang mengandung.” Maka isteri Nabi Zakaria berkata: “Aku menemukan bahwa bayi di dalam kandunganku bersujud kepada bayi dalam kandunganmu”.

Inilah yang diartikan pengakuan Yahya atas percayanya kepada Isa sebagai Firman Allah, yang ditemukan dalam Al-Qur’an 3:39 ... Yahya akan mengakui kerasulan Isa yang dilahirkan dengan Kalimat-Cipta daripada Allah. [59]



            Ibn Abbas mengakui kebenaran kepercayaan itu ketika ia mengatakan bahwa Yahya lebih tua enam bulan dari Isa, dan ialah yang pertama kali percaya dan mengakui Isa sebagai Firman Allah dan Roh Allah. [60]

            Meskipun Yahya adalah seorang nabi yang besar [61] yang disebut sebagai seorang sayed [62] dalam Al-Qur’an (artinya ‘pemimpin orang-orang beriman’, [63] dan ‘orang penting sebagai penguasa dan pemimpin anutan dalam agama’) [64] , ia bersujud di dalam kandungan ibunya kepada Isa. Yahya adalah juga enam bulan lebih tua dari Isa.  Menurut kebiasaan atau adat, sebenarnya Isa yang seharusnya bersujud kepada Yahya karena ia lebih muda, tetapi dalam hal ini sebaliknya Yahya yang bersujud kepada Isa.

             Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa kita tidak diberitahu bahwa Isa percaya atau mengakui Yahya adalah seorang nabi, tetapi kita diberitahu bahwa meskipun Yahya lebih tua daripada Isa, dialah orang yang pertama sekali mengakui Isa adalah Firman Allah.  Meskipun keduanya adalah nabi, Yahya bersujud kepada Isa.  Isa patut mendapatkan penghargaan dan hormat yang lebih tinggi daripada seorang nabi karena ia lebih tinggi tingkatannya daripada nabi.  Ia adalah Firman Allah.



Al Masih Diberi Wahyu yang Sempurna



Al-Qur’an menyebutkan Isa sebagai telah diajarkan oleh Allah seluruh firman yang telah diwahyukan Allah:



Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, Taurat dan Injil. [65]



            Mengulas pada ayat ini, Razi mengatakan bahwa:



Ia yang mengetahui rahasia Kitab yang Allah Maha Tinggi wahyukan, kemudian Allah mewahyukan kitab lainnya setelah itu, dan menjelaskan dengan terang kepadanya semua rahasia-Nya, yang merupakan tujuan akhir, pemahaman yang sangat tinggi dan penguasaan rahasia-rahasia intelektual dan keagamaan, dan pengetahuan akan kebijaksanaan atau hikmah baik yang rendah maupun yang tinggi derajatnya. [66]



            Baidawi menjelaskan bahwa ‘Kitab’ yang disebutkan dalam ayat tersebut merupakan “kata asli untuk Kitab-kitab yang telah diwahyukan”.  Menurut penyataan Al-Qur’an “Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil” sudahlah sempurna dan tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, yang artinya mencakup semua firman Allah yang diwahyukan.

            Jelaslah dari pernyataan di atas bahwa tidak ada nabi-nabi lain yang diberikan wahyu secara total dari Kitab-kitab Suci kecuali yang diberikan kepada Isa Al Masih.





Al Masih Diperkuat oleh Roh Suci



Sifat menonjol yang lainnya dari Isa ialah bahwa ia sendiri diakui dan dikuatkan oleh Roh Suci.  Isa selalu terus-terusan didampingi oleh Roh Suci dari mulai ia dalam kandungan sampai ia diangkat ke syurga.  Sebagaimana Al-Qur’an menyatakan:



Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab Taurat kepada Musa lalu Kami iringi sesudahnya beberapa orang Rasul dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa keterangan-keterangan mujizat, serta Kami perkuat dia dengan Roh Suci. [67]

             



            Razi mengulas ayat ini sebagai berikut:



Hak istimewa dari Jibril (yakni Roh Suci) kepada Isa merupakan sifat atau ciri yang menonjol, sehingga dia satu-satunya nabi di antara para nabi yang dibedakan. [68]



            Kemudian Razi mengatakan tentang Malaikat Jibril:



... yang menyampaikan kabar baik kepada Maryam tentang kelahiran Isa dan kehamilannya ditiupkan Malaikat Jibril; ia yang menyertai Isa dalam situasi apapun dan ia selalu menyertai gerak-gerinya setiap saat ke manapun Isa pergi. [69]



            Jelaslah bahwa Roh Suci menyertai Isa dan sebagai kekuasaan yang mengawasi Isa sepanjang hidupnya.  Sebagaimana Razi katakan, Malaikat Jibril tidak meninggalkan Isa sesaatpun. [70]

            Di lain pihak, Nabi Muhammad hanya dikunjungi atau didatangi oleh Malaikat Jibril.  Satu saat ia bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Apakah yang menahan anda tidak sering mengunjungi kami sekarang?’ Untuk pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril menjawab: ‘Kami malaikat-malaikat turun ke bumi hanya karena perintah Tuhanmu’. [71]

            Isa didampingi oleh Roh Suci secara kekal tanpa gangguan atau interupsi.  Untuk memahami kebersamaan Isa dan Roh Suci kita perlu mengetahui tentang tempat Roh Suci (Jibril) di Kerajaan Allah.

            Menurut Razi, Malaikat Jibril adalah pemimpin dari semua pemimpin malaikat yang sangat tinggi di antara malaikat.  Kedudukannya dilengkapi dengan hak-hak istimewa tertentu dan tanggung-jawabnya yang diberikan Allah kepada Malaikat Jibril.



Pertama, Malaikat Jibril diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada para nabi. [72]

                Kedua, Allah Yang Maha Tinggi menyebutkan Malaikat Jibril dalam Al-Qur’an sebagai memiliki kedudukan yang terdepan di antara para malaikat.  Malaikat Jibril adalah pemimpin malaikat yang berwenang memberikan inspirasi atau ilham dan pengetahuan, sementara Malaikat Mikail yang berwenang memberikan makanan dan kehidupan.  Karena pengetahuan atau ilmu adalah merupakan makanan roh, maka lebih mulia daripada makanan yang berbentuk fizikal .  Jadi Malaikat Jibril lebih tinggi harkatnya daripada Malaikat Mikail.

                Ketiga, Allah membuat Malaikat Jibril mendapatkan kedudukan kedua dari-Nya.

                                Keempat, Allah menyebutnya sebagai Roh Suci.

                Kelima, Malaikat Jibril diberikan kekuasaan untuk memenagkan umat yang berada di pihak Allah dan menghancurkan umat yang memusuhi Allah.

                Keenam, Allah memuji Malaikat Jibril dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Jibril itu, berdaya ingatan amat kuat, di samping berkedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Singgasana, disegani antara sesama malaikat, bahkan sangat dipercaya’ (Al-Qur’an, 81:20, 21).  Oleh karena itu, misi Malaikat Jibril adalah sebagai rasul Allah bagi semua nabi...daerah kekuasaannya (‘umah) adalah para semua nabi.  Ia mulia dihadapan Allah karena Allah membuat dia sebagai perantara antara Allah sendiri dengan abdi-abdi-Nya yang mulia...yakni para nabi.  Allah memberikan kedudukan kedua dari-Nya ... Malaikat Jibril adalah Imam dan Teladan dari para malaikat.  Ia terpercaya. [73]



            Kita bisa mengambil kesimpulan dari keterangan di atas bahwa Roh Suci, yakni Malaikat Jibril, sebagai Pemimpin dan Imam dari semua malaikat.  Ia lebih mulia dari Malaikat Mikail, di mana ia mendapatkan kedudukan yang tertinggi karena ia menempati kedudukan kedua dari Allah Yang Maha Tinggi, dan ia adalah pesuruh bagi nabi-nabi, yakni dari seorang nabi kepada nabi-nabi yang lain.

            Karena Isa tidak berdosa, ia selalu disertai Roh Suci. Andaikan ada cela dalam diri Isa, maka Roh Suci sudah tentu akan meninggalkannya paling sedikit selama saat tertentu dalam hidupnya.  Tetapi Isa terus-terusan menjadi pusat perhatian pemimpin malaikat (Jibril) yang mempunyai kedudukan kedua setelah Allah Yang Maha Tinggi.  Inilah suatu kehormatan yang unik yang hanya dimiliki oleh Isa Al Masih.





Al Masih Berkedudukan dekat dengan Allah



Razi mengatakan bahwa roh Isa Al Masih sebagai:



suci, tinggi, mulia, terang benderang dengan nur cahaya ilahi, dan sangat besar kedekatannya dengan roh-roh malaikat (atau sangat banyak mirip dengan roh para malaikat). [74]



            Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa roh Isa sama dengan roh para malaikat, tetapi Isa lebih dekat di sisi Allah sendiri.  Ungkapan Razi mengandung arti bahwa roh Isa lebih dekat dengan malaikat, tetapi Al-Qur’an mengungkapkan bahwa Isa berada dekat di sisi tiada yang lain kecuali Allah. Kami baca dari Al-Qur’an, 3:45-47 bahwa para malaikat berkata kepada Maryam:



Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam!  Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah.



Pengungkapan Razi dari arti kedudukannya dekat dengan Allah memberikan gambaran yang jelas dari kedekatannya ini:



Pujian ini sama besarnya dengan pujian yang diberikan kepada malaikat, sehingga Allah dengan keterangan ini telah memberikan peringkat atau derajat Isa sama dengan derajat dan mendapat kedudukan yang sama dengan para malaikat. [75]



            Adalah penting untuk diketahui bahwa para malaikat yang disebutkan dalam ulasan Razi bukanlah malaikat biasa, tetapi mereka adalah malaikat-malaikat yang berada di sekitar Takhta Allah.

            Sampai di mana dekatnya Isa dengan Allah?  Jawabannya secara jelas ditemukan dalam kenyataan bahwa Allah mengirimkan yang terdekat kepada-Nya yakni Roh Suci (Jibril) untuk berada dalam diri Isa.  Allah tidak mengirim Mikail atau Isofil tetapi hanyalah Pemimpin atau Imam dari semua malaikat, dan orang yang terdekat dengan Yang Maha Tinggi.

            Menurut Razi, Malaikat Jibril bukan hanya dekat dalam kedudukan atau kepangkatannya, tetapi juga Malaikat Jibril berhubungan sangat dekat sekali dengan Allah.  Dalam penjelasannya tentang arti ungkapan ‘Roh Kami’ [76] , Razi menulis:



Dia (Allah) menyebut dia (Jibril) sebagai Roh-Nya karena dia sumber kehidupan agama atau menunjukkan kasih-Nya dan kedekatan-Nya kepada dia, seperti mungkin anda mengungkapkan kasih sayang kepada yang paling anda cintai sebagai ‘engkau adalah nyawaku atau jiwaku’. [77]



            Jadi Malaikat Jibril tinggi derajatnya dengan Allah dan paling dikasihi Allah.  Hak istimewa Allah kepada Malaikat Jibril untuk menyertai Isa merupakan suatu petanda betapa berharganya Isa pada Allah atas nilai karunia yang diterima oleh yang menerimanya.  Tidak ada yang paling berharga daripada kekekalan penyertaan Roh Suci, kecuali Hadirat Allah itu sendiri.





Al Masih Diangkat dekat ke Sisi Allah



Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Isa diangkat di sisi Allah dan ia hidup sekarang:



...Mereka membunuhnya dengan keraguan ...Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat derajat Isa ketempat yang mulia.  Dan adalah Allah Maha Perkasa dan Bijaksana [78]

...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir.  Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir sampai pada hari kiamat. [79]



            Al-Qur’an juga menggunakan perkataan “mengangkat” atau “meninggikan” yang ada kaitannya dengan Nabi Muhammad:



Dan Kami angkat keharuman namamu? [80]



            Dalam kenyataan ini, kemashuran Nabi Muhammad yang diangkat, bukannya diri Nabi Muhammad itu sendiri.

            Kata “ditinggikan” juga digunakan dengan kaitannya dengan Nabi Idris yang menurut cerita telah ‘diangkat ... ke atas tempat yang tinggi’. [81] Tempat mana yang diperuntukkan bagi Nabi Idris tidaklah diketahui.  Di samping itu, secara faktanya ia diangkat ke suatu ‘tempat’ yang mengindikasikan tempat secara jasmani bukannya secara rohaniah .  Razi mengatakan bahwa arti yang diinginkan utama adalah ‘ditinggikan’ karena pengangkatan Nabi Idris diasosiasikan dengan tempat secara jasmani dan bukannya derajatnya. [82]   Namun dalam hal Isa, Al-Qur’an menyatakan bahwa:

...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir.  Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir sampai pada hari kiamat. [83]

         

            Jelas sekali, Isa tidak diangkat ke tempat yang tinggi seperti Nabi Idris, tetapi ia diangkat ke sisi Allah. Razi mengulas ayat Al-Qur’an 4:158:



Pengangkatan Isa ... yang teruji dalam ayat ini dan kesamaannya dalam Al-Qur’an 3:55 itu membuktikan bahwa pengangkatan Isa ke sisi Allah merupakan suatu karunia yang nilainya lebih bessar daripada Firdaus itu sendiri dan kenikmatan-kenikmatan jasmani. Dan ayat itu sendiri membukakan kepada anda pintu ilmu/pengetahuan akan kesukacitaan rohaniah . [84]



            Justru, menurut Razi, pengangkatan Isa ke sisi Allah itu lebih agung daripada Firdaus, dengan segala yang terdapat dalam ratusan tingkatnya, [85] baik tingkat yang paling bawah maupun yang tertinggi.  Dan apakah yang lebih besar dari Firdaus dan segala kenikmatan-kenikmatan jasmaninya?  Jawabannya ialah: Hadirat Allah. [86]

            Razi menambahkan lagi artinya ayat “Dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku” sebagai “Aku mengangkat derajatmu dalam Hadirat Kemuliaan-Ku”, [87] kemuliaan yang tertinggi untuk selama-lamanya.  Tidak seperti Nabi Idris. Isa tidak diangkat ke suatu tempat, karena ayat di atas tidak menyebutkan nama sesuatu tempat.  Sebaliknya, ayat itu berulangan menyatakan Isa telah “diangkat ke sisi Allah’, atau (seperti yang Razi nyatakan), ‘Isa telah diangkat ke Hadirat Kemuliaan Allah’ – yakni, untuk bersama Allah.  Ia lebih tinggi dari segala sesuatu. Semasa hayatnya di bumi, Isa dibedakan dan dikasihi dengan kehadiran terus-terusan Roh Allah.  Dan kini ia menikmati yang terunggul: Allah sendiri.





Al Masih Sebagai Pengetahuan Hari Kiamat



Keterangan ini telah dibahas di Bahagian Pertama tetapi kita akan membahas secara singkat beberapa pandangan yang relevan pada Bahagian ini.  Meskipun Hadis mengungkapkan beberapa tanda-tanda tentang Hari Kiamat, Al-Qur’an secara tegas mengakui bahwa Isa sebagai pengetahuan saat Hari Kiamat:



Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar memberikan pengetahuan kepadamu tentang terjadinya kiamat, karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu, dan ikutilah petunujk-Ku.  Inilah jalan yang lurus. [88]



            Beberapa mufasir mengatakan bahwa dalam ayat ini sebagai pengetahuan akan Hari Kiamat ialah Al-Qur’an itu sendiri.  Namun demikian mayoritas mufasir yang ternama mengatakan bahwa ayat itu mengacu ke Isa, di mana penjelasannya sebagai berikut:



Adalah ia, yang berarti Isa, yang merupakan suatu syarat Hari Kiamat diketahui. [89]



Saat-saat akhir ini diketahui oleh kemunculannya, yakni kemunculan Isa Al Masih, pengetahuan tentang Hari Kiamat. [90]



Ia (Isa) adalah tanda atau petanda akhir jaman atau ia sebagai saat-saat Hari Kiamat atau ia sendiri sebagai suatu syarat atau pensyaratan atas kejadian tersebut. [91]



            Menurut penyataan-penyataan tadi, Isa sebagai suatu tanda dan persyaratan atas kejadian Hari Kiamat.

            Beberapa orang mengatakan bahwa ia adalah pengetahuan Hari Kiamat, karena mujizatnya yang besar.  Shokani, dalam Fath al-Qadeer mengatakan bahwa:



...kelahiran Isa dari seorang perawan, dan bangkitnya dari kematian adalah sebagai bukti atas kebenaran kebangkitan kembali yang terakhir. [92]



            Ibn-Khatir mengatakan bahwa:



Mujizat Allah yang diperlihatkan dengan perantaraan tangan Isa Al Masih dalam menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, merupakan bukti yang cukup kuat bagi kepastian Hari Kiamat. [93]



            Ibn-Khatir kemudian menolak pendapat bahwa ayat ini menyebutkan tentang Al-Qur’an sebagai petanda Hari Kiamat:



Yang benar ayat yang dimaksudkan mengacu kepada Isa Al Masih, karena konteks dari ayat itu adalah mengenainya, yang artinya bahwa Isa akan datang sebelum Hari Kebangkitan. [94]



            Dalam ulasannya pada Bahagian kedua ayat tersebut, Ibn-Khatir mengatakan:



Janganlah ragu dan meragukan, karena ia pasti akan terjadi. [95]



            Jadi, baik Shokani maupun Ibn-Khatir mengatakan bahwa mujizat-mujizat Isa Al Masih menghilangkan setiap keraguan tentang kenyataan Hari Kiamat.  Beberapa orang mungkin menyangkal kepastian akan Hari Kiamat tersebut tetapi Al-Qur’an dengan secara lugas menyatakan bahwa Isa Al Masih merupakan harapan akan kebangkitan kembali dan pembalasan dari Allah yang setimpal baik berupa hukuman ataupun imbalan.





Al Masih, Orang yang Terpilih oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir



Hadis berulangkali mengatakan tentang si Dajjal yang akan munculsebelum Hari Kiamat, yang menyebabkan banyak masalah di dunia dan ia mengakui dirinya sebagai Allah Yang Maha Besar.  Sebuah Hadis mengatakan:



Tidak ada kekacauan atau masalah yang diciptakan sebanyak apa yang terjadi di waktu kehadiran si Dajjal kalau dihitung dari mulai Nabi Adam diciptakan sampai Hari Kiamat. [96]



            Diakui bahwa Hazifah orang yang paling dipercaya, mengatakan bahwa:



Bila Al Masih palsu muncul ke dunia bahkan manusia di dalam kuburpun akan beriman kepadanya. [97]



            Al-Qadi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi (534 H) pula mengatakan:



Hadis-hadis yang menyebutkan si Dajjal (dalam Sahih Muslim) dan yang lainnya adalah merupakan bukti bagi para pengikutnya, yakni para pengikut Kebenaran akan adanya realitas tersebut dan si Dajjal adalah orang khusus dimana atas pengetahuan Allah umat manusia akan menderita karenanya.  Allah akan membuat si Dajjal memanifestasikan beberapa kuasa Allah Yang Maha Besar seperti membangkitkan lagi orang mati yang ia bunuh, bumi tumbuh subur atas kuasanya, Firdaus dan Nerakanya berupa dua sungai, disertai dengan melimpah ruahnya bumi, ia bisa menyuruh langit untuk menurunkan hujan dan bumi jadi subur karenanya. [98]



            Namun Hadis juga mengungkapkan Isa akan datang untuk membunuh si Dajjal, dan ia datang untuk menegakkan kedamaian dan memulihkan keimanan mereka untuk beriman kepada Allah yang sesungguhnya.  Hal ini telah diterangkan dalam Bahagian "Kembalinya 'Isa di Akhir Zaman" diatas.

            Jadi menurut Hadis, Al Masih yang palsu akan datang sebelum Hari Kiamat.  Kemunculannya akan merupakan tipuan yang terbesar yang pernah dialami oleh umat manusia, dan merupakan manifestasi terakhir dari Syetan serta suatu bencana yang paling buruk atas keimanan seseorang terhadap Allah Yang Maha Besar sejak dunia diciptakan sampai Hari Kiamat.  Juga menurut Hadis, hanya Isa Al Masihlah yang mampu menghancurkan si Dajjal dan yang bisa memperbaiki keimanan terhadap Allah Yang Maha Benar dan Yang Kekal selamanya.

            Bila Allah melihat peradaban manusia di ambang kehancuran, Allah tidak akan mengutuskan seorang nabi atau bahkan Malaikat Jibril imam para malaikat.  Pertempuran yang terbesar di abad itu akan dimenangkan oleh Isa Al Masih dengan kekuasaannya yang dalam waktu singkat saja sebagaimana dinyatakan oleh Hadis:



Isa anak Maryam akan turun ke bumi ... dan akan menjadi imam dalam sembahyang.  Bila musuh Allah (si Dajjal) melihatnya, ia akan hancur seperti garam dalam air. [99]



            Mengapa Isa saja yang mampu menghancurkan si Dajjal?  Mengapa Allah menghantar Isa dan bukannya Musa, Ibrahim atau Idris?  Jawabannya bisa ditemukan dalam Hadis berikut:



Bila godaan-godaan merayap hingga teranyam dalam hati seperti anyaman tikar, hati yang menerimanya akan membentuk titik hitam sedangkan yang menolaknya hatinya akan membentuk titik putih. Lama-kelamaan akan terbentuklah salah satu diantaranya, apakah itu akan putih seperti pualam putih yang murni, yang tipuan tidak mampu mempengaruhinya selama langit dan bumi berpijak pada tempatnya; atau akan terbentuk hati yang hitam legam, yang banyak berdebu tak terurus seperti bejana yang terbalik yang tidak bisa lagi dipakai apapun. [100]



            Sayuti mengutip Ibn ‘Abbas yang mengatakan:



... di anatra mereka yang dilahirkan, hanya kepada Isa anak Maryam, Syetan tidak bisa berpengaruh ataupun menyentuhnya. [101]



            Jadi Isa adalah lebih berkuasa ke atas si Dajjal yang tidak bisa mempengaruhi atau menguasainya. Oleh karenanya, Isa dipilih oleh Allah dalam Hari Kiamat.  Dialah satu-satunya yang mampu menyelamatkan dunia dari penipuan yang terbesar dan pengaruh iblis.





Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya



Al-Qur’an menggambarkan hanya ada dua orang yang mempunyai sifat kebesaran/kemegahan yaitu Musa dan Isa.  Mengenai Musa, dikatakan:



Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menganggu Musa dengan tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan itu, dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat dalam pandangan Allah. [102]



            Dan kepada Isa dinyatakan ketika malaikat berkata:



Hai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang terdekat kepada Allah. [103]



            Musa dahulunya megah, tetapi kemegahan Isa adalah lebih bersifat abadi. Ia megah (wajih) bukan hanya dalam kehidupan di dunia ini tetapi juga kehidupan di akhirat.

            Razi mengutip beberapa ulasan daripada akhli bahasa (linguist) Arab atas kata ‘wajih’:



Kata ‘wajih’ adalah orang yang terkenal.  Karena Bahagian daripada badan yang paling dimuliakan adalah wajah (akar kata dari ‘wajih’ adalah ‘wajh’ yang artinya wajah atau muka), jadi wajah dijadikan suatu metafor untuk kesempurnaan atau kebesaran.

Musa adalah yang paling terkenal di antara semua nabi sampai Isa datang.  Perbedaannya dengan Musa ialah Isa lebih tinggi tingkatannya dari Musa, di mana ia tidak akan tertandingi di mana Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa adalah ‘wajih’ baik selama kehidupannya di dunia maupun di hari akhirat.  Jika ada orang lainnya yang lebih tinggi daripada Isa, maka tidak akan disebutkan bahwa Isa akan ‘wajih’ di hari akhirat.

Hal ini dikuatkan dalam metafor Razi.  Hanya ada satu muka bagi setiap orang dan karenanya hanya ada satu orang yang lebih tinggi atau megah baik di kehidupan di dunia maupun di akhirat.  Makanya, Isa adalah ‘muka atau wajah’ dari kehidupan ini, yaitu anggota yang paling dihormati dalam kehidupan ini.  Dan ia juga merupakan ‘wajah atau muka’ yang paling dihormati di hari akhirat.  Keutamaan Isa ini jadinya berkelanjutan, tidak tertandingi dan sempurna sepajang zaman.

Mengulas atas arti ‘kemegahan dan kebesaran’, Shokani mengatakan: ‘kemegahan adalah kekuasaan dan kewenangan’.

Apakah sifat alamiah dari kemegahan itu?  Baidawi dan mufasir lainnya mengatakan bahwa:
Kemegahan dalam kehidupan ini adalah kemampuan bernubuat atau meramal masa depan atau masa akan datang tentang apa yang akan terjadi, dan dalam kehidupan akhirat adalah mampu mendoakan orang (menengahi), membela dan menyelamatkan.

Lebih rinci atas hal ini Razi mengatakan:
Isa diperbedakan atau wajih dalam kehidupan dunia ini, karena permohonannya dikabulkan.  Ia bisa menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan yang buta dan kusta dengan doa-doanya.  Ia besar atau megah di kehidupan akhirat karena Allah membuatnya bisa membela dan menyelamatkan umatnya yang benar dan Allah  menerima segala doa syafatnya bagi  mereka.

Menurut Razi, kita bisa mendapatkan beberapa gagasan atau ide macam apa yang bisa diberikan kepada Isa dalam kehidupan akhirat dengan melihat pembelaan atau pengorbanannya selama berada di dunia.  Selama itu Isa Al Masih melalui pembelaannya bisa menghidupkan orang mati untuk hidup kembali. Pengorbanan pembelaannya lebih kuat dari kematian.  Dan pembelaannya di hari akhirat akan lebih kuat daripada Neraka.

Kemegahan Isa Al Masih (wajahah) di dalam kehidupan duniawinya sebagai suatu ukuran akan kemegahannya di hari kemudian atau akhirat.  Ucapan-ucapannya atau firmannya sangat kuat pengaruhnya baik kepada manusia maupun dengan Allah karena firman-firmannya itu sangat kuat untuk membersihkan mereka dari dosa-dosanya dan bisa menghidupkan orang mati.  Firman-firmannya lebih kuat dari dosa, kematian dan Neraka karena Neraka mendapat kekuatannya dari dosa.

Mengenai salah satu aspek dari kebesaran atau kemegahan Isa di dalam kehidupan di dunia, Baidawi mengatakan:

Allah membuat mujizat-mujizatnya karena kecintaannya yang lebih, di mana merupakan tanda-tanda yang jelas dan mujizat yang besar.  Bila mujizat-mujizat itu dipersatukan, tidak ada orang lain yang melaksanakannya.

Dalam pandangan Baidawi, maka kemegahan Isa dalam kehidupan di dunia tidak tertandingi oleh sesiapapun, kemegahannya di hari akhirat pun sama tidak akan bisa tertandingi.

http://www.answering-islam.org/Bahasa/Isa/AlMasih_Sejarah.html